Petani Milenial Lumajang Maniskan Ekspor Ubi Jalar, Kok Bisa?

Potensi ubi jalar Lumajang berhasil menembus ekspor. Foto: Istimewa

Moch. Maulana Malik Ibrahim (32), termasuk petani milenial ubi jalar asli Kabupaten Lumajang. Ia berhasil menjual (mengekspor) hasil panennya ke Singapura, China, dan Thailand.

Maulana yang berasal dari Desa Tekung, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, sudah menekuni lima tahun menjadi petani ubi jalar.

"Dulunya Saya sempat mengalami kegagalan dalam melakukan penanaman ubi jalar, namun saya tidak berhenti sampai di situ. Saya terus berusaha hingga pada akhirnya sampai dengan sekarang ini," kata Maulana.

Sejak lima tahun dirinya sudah menggeluti pekerjaan yang terbilang tidak mudah dilakukan oleh seorang anak muda. Ia sempat mengalami kegagalan, namun dari kegagalan tersebut ia belajar dan berhasil. Hingga kemudian banyak eksportir yang menghubunginya.

Saat ini, dirinya mampu mengekspor ubi jalar ke tiga negara dengan jumlah 20 ton. Ia mengaku, dari 20 ton ubi, kebutuhannya bisa tercukupi.

"Perhari sekali kirim 20 ton. Saya juga ambil ubi jalar dari Blitar, Malang, Probolinggo, Kedungjajang Lumajang, Jember, Bondowoso, hingga Banyuwangi. Permintaan ekspor setiap hari 20 ton, tapi hanya sanggup satu minggu dua kali. Namun, kalau dijual di pasar harganya Rp. 800-1000 Rupiah per kilonya," katanya.

Sementara untuk ekspor, harganya jauh lebih mahal dibanding dijual secara lokal. Kalau diekspor harganya mencapai Rp. 5-6 ribu per kilonya. Kalau sampai satu minggu bisa mengirim 40 ton, pendapatnya sudah luar biasa. Per bulan omset bersihnya mencapai Rp. 100 juta.