Bumikan Marhaenisme di Era Modern, GMNI ITB Widya Gama Gelar Refleksi Harlah Bung Karno di Aula KPU Lumajang
Panitia nonbar GMNI di Aula KPU Lumajang (15/06). Foto: Visit LumajangLangkah GMNI Menjaga Pokok Pikiran Marhaenisme di Lumajang
Ketua Panitia, Ajeng, menjelaskan bahwa pemilihan materi film dan konsep acara ini bertujuan agar kita tidak kehilangan akar sejarahnya di tengah gempuran arus modernisasi.
"Kami ingin mengajak kawan-kawan mahasiswa untuk melihat kembali secara jernih bagaimana para pendiri bangsa berdialektika, sehingga kita bisa mengimplementasikan nilai-nilai tersebut hari ini," ujar Ajeng dalam laporan panitianya.
Ketua Komisariat GMNI ITB Widya Gama Lumajang, Ilham, menegaskan bahwa ideologi Marhaenisme yang dicetuskan oleh Bung Karno tidak boleh berhenti menjadi jargon atau sekadar teks di dalam buku sejarah.
Menurutnya, Marhaenisme harus mampu bertransformasi menjadi pisau analisis bagi mahasiswa untuk membela hak-hak masyarakat kecil (kaum marhaen) di era modern.
"Tantangan zaman kita hari ini berbeda dengan era Bung Karno. Saat ini kita menghadapi digitalisasi, disrupsi ekonomi, dan pergeseran sosial," ungkap Ilham.
"Namun, esensi Marhaenisme tetap sangat relevan. Tugas GMNI ITB Widya Gama adalah membumikan ideologi ini agar adaptif dan solutif terhadap persoalan riil di masyarakat Lumajang saat ini," tegasnya di sela-sela diskusi.
Dipilihnya Aula KPU Lumajang sebagai lokasi acara juga dinilai strategis dalam menyimbolkan ruang demokrasi yang sehat, di mana pemikiran-pemikiran besar bangsa dapat didiskusikan secara terbuka dan intelektual oleh generasi penerus.
