Sudah Ada Sejak Zaman Kolonial, Inilah Sisi Unik dan Upaya Konservasi Hutan Bambu Lumajang

Kolam renang di wisata Hutan Bambu Sumbermujur Candipuro. Foto: Visit Lumajang

Sejarah Hutan Bambu Sumbermujur Candipuro Lumajang

Selain itu, di sini terdapat panggung pertunjukan yang biasanya digunakan untuk pagelaran budaya masyarakat sekitar, memberikan pengalaman wisata yang lebih kaya.

Sejarah hutan ini dimulai pada tahun 1930, ketika Desa Sumbermujur dikenal memiliki sumber air melimpah. Pada masa itu, Belanda memberi instruksi kepada masyarakat untuk menanam bibit-bibit bambu.

Namun, pada tahun 1942, hutan bambu mengalami kerusakan akibat Jepang masuk ke Indonesia. Banyak bambu ditebang tanpa penanaman ulang, sehingga kondisi hutan menurun.

Kerusakan ini berlangsung hingga awal 1960-an, sampai masyarakat menyadari bahwa cadangan air semakin berkurang dan kebutuhan air meningkat.

Pada tahun 1972, lahirlah Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam (KPSA) yang mulai menanam bambu kembali. Upaya ini berhasil meningkatkan cadangan air, dan pada tahun 2002 desa ini mendapat penghargaan Kalpataru.

Setelah melalui proses konservasi hingga 2005, Hutan Bambu resmi menjadi hutan wisata pada tahun 2016.

Tiket masuknya Rp5.000 untuk dewasa dan Rp3.000 untuk anak-anak, buka pukul 07.00–16.30 WIB, dengan jarak sekitar 25 km dari pusat kota Lumajang.