Dilema Lereng Semeru: Ketika Keengganan Pindah Melawan Bahaya

Kondisi Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo setelah erupsi Semeru 19 November 2025 lalu. Foto: Dok. Visit Lumajang

Penderitaan yang Terukur di Daerah Rawan Bencana?

Manusia secara naluriah tidak menyukai ketidakpastian.

Kita lebih suka ke Penderitaan yang Terukur: Penderitaan di tempat yang familiar (misalnya, daerah rawan bencana atau konflik yang sudah berulang) sudah terprediksi dan sudah diketahui batas-batas risikonya.

Kita tahu siapa yang bisa diandalkan, jalur evakuasi mana yang harus diambil, dan bagaimana sistem sosial lokal bekerja.

Analoginya? Lebih baik menghadapi musuh yang sudah kita kenal kekuatannya daripada menghadapi musuh tak terlihat kekuatannya.

Pindah ke tempat baru (migrasi atau pengungsian) adalah ketidakpastian total. Ada resiko pengucilan, tidak ada pekerjaan, diskriminasi.

Bagi warga Semeru bahkan kita umat manusia, tanah adalah akar budaya dan identitas, jauh melampaui sekadar aset fisik.

Ikatan batin dan rasa memiliki, sering kali mengalahkan insting individual untuk sekadar menyelamatkan diri.